Senin, 18 Oktober 2010

Kausalitas Bradford Hill

Hill mengusulkan supaya segi-segi berikut dari suatu hubungan dipertimbangkan pada waktu membedakan hubungan-hubungan kausal dari bukan kausal.

1. Kekuatan. Dengan “kekuatan hubungan”, Hill memaksudkan besarnya rasio angka baku – angka baku insidensi. Alasan yang dikemukakan Hill pada intinys ialah bahwa hubungan yang kuat lebih cenderung untuk kausal daripada hubungan yang lemah karena bila ia disebabkan oleh pengacauan atau bias yang lain, hubungan bias ini akan jauh lebih kuat dan karena itu mungkin akan terbukti. Di lain pihak, hubungan yang lemah lebih cenderung untuk disebabkan oleh bias – bias yang yang tidak terdeteksi. Namun, kenyataan bahwa suatu hubungan itu lemah tidak meniadakan hubungan kausal. Sudah ditunjukkan bahwa kekuatan hubungan bukan suatu ciri biologik yang tetap tetapi lebih merupakan suatu sifat yang tergantung pada prevalensi relatif penyebab – penyebab lain.

2. Konsistensi. Konsistensi menunjuk kepada pengamatan berulang – ulang suatu hubungan pada populasi – populasi yang berbeda dalam keadaan – keadaan yang berbeda. Akan tetapi, tidak adanya konsistensi tidak meniadakan hubungan kausal karena beberapa akibat disebabkan oleh penyebab – penyebabnya hanya dalam keadaan – keadaan yang luar biasa. Lebih tepat lagi, akibat dari suatu agen kausal tidak dapat timbul kecuali penyebab komponen pelengkapnya berpengaruh, atau sudah berpengaruh, untuk melengkapi suatu penyebab sufisien. Persyaratan ini tidak selalu akan dipenuhi. Lagi pula, penelitian – penelitian dapat diharapkan berbeda hasilnya karena mereka berbeda dalam metodologinya.

3. Kekhususan. Patokan kekhususan menuntut bahwa suatu penyebab menimbulkan suatu akibat, tidak banyak akibat. Pendirian ini sering diajukan, terutama oleh mereka yang ingin membebaskan merokok sebagai penyebab kanker paru. Akan tetapi, penyebab – penyebab dari suatu akibat tertentu tidak dapat diharapkan ada tanpa akibat – akibat lain berdasarkan alasan – alasan yang masuk akal apapun. Menurut kenyataan, pengalaman sehari – hari berulang – ulang mengajarkan kepada kita bahwa kejadian tunggal dapat mempunyai banyak akibat.

4. Temporalitas. Temporalitas menunjuk kepada ketentuan bahwa penyebab harus mendahului akibat dalam hal waktu.

5. Gradien biologik. Gradien biologik menunjuk kepada adanya suatu kurva dosis reaksi. Jika reaksi dianggap sebagai suatu ukuran epidemiologik dari akibat, yang diukur sebagai fungsi dari insidensi penyakit komparatif, maka persyaratan ini biasanya dipenuhi. Akan tetapi, beberapa hubungan kausal, memperlihatkan kecenderungan akibat menurut dosis yang tidak nyata. Hubungan – hubungan yang menunjukkan kecenderungan dosis reaksi tidak selalu kausal, pengacauan dapat menghasilkan kecenderungan seperti itu antara sebuah faktor risiko nonkausal dan penyakit jika faktor pengacau itu sendiri memperlihatkan gradien biologik dalam hubungannya dengan penyakit.

6. Plausibilitas. Plausibilitas menunjuk kepada apakah hipotesisnya masuk akal secara biologik, suatu masalah yang penting tetapi mungkin sukar untuk dinilai.

7. Koherensi. Diambil dari laporan Surgeon General tentang Merokok dan Kesehatan (1964), istilah koherensi menunjukkan bahwa penafsiran sebab dan akibat untuk suatu hubungan tidak bertentangan dengan apa yang sudah diketahui mengenai riwayat alamiah dan biologi dari penyakit tersebut. Contoh – contoh yang diberikan Hill untuk koherensi, seperti akibat histopatologik dari merokok terhadap epitelium bronkhial atau perbedaan dalam insidensi kanker paru menurut jenis kelamin, dapat secara masuk akal dianggap sebagai contoh – contoh dari plausibilitas maupun koherensi, perbedaan ini tampak kecil. Hill menekankan bahwa tidak adanya informasi yang koheren, yang tampaknya dibedakan dari adanya informasi yang bertentangan, harus dianggap sebagai bukti melawan pendapat bahwa suatu hubungan bersifat kausal.

8. Bukti eksperimental. Bukti seperti ini jarang ada untuk populasi – populasi manusia.

9. Analogi. Pemahaman yang didapat dari analogi tampaknya dirintangi oleh daya khayal mencipta para ilmuwan yang dapat menemukan analogi – analogi dimana – mana. Namun demikian, analogi – analogi sederhana yang dikemukakan Hill – jika satu obat dapat menyebabkan cacat kelahiran, mungkin yang lain dapat juga – mungkin dapat meningkatkan kredibilitas bahwa suatu hubungan itu kausal.

Seperti yang dapat dilihat, kesembilan segi bukti epidemiologik yang diajukan oleh Hill ini untuk menilai apakah suatu hubungan itu kausal penuh dengan keraguan dan pengecualian, beberapa mungkin salah (kekhususan) atau kadang – kadang tidak ada kaitannya (bukti eksperimental dan barangkali analogi). Hill mengakui bahwa tidak satupun dari kesembilan pendapat saya memberikan bukti pasti yang mendukung atau menentang hipotesis sebab – dan – akibat dan tidak satupun dapat dianggap sebagai mutlak perlu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar