Minggu, 31 Oktober 2010

Pendekatan Pada Penyakit Tidak Menular (PTM)

1. Studi Cross Sectional

Dalam penelitian cross-sectional peneliti mencari hubungan antara variabel bebas (faktor risiko) dengan variabel tergantung (efek) dengan melakukan pengukuran sesaat. Tentunya tidak semua subyek harus diperiksa pada hari ataupun saat yang sama, namun baik variabel risiko serta efek tersebut diukur menurut keadaan atau statusnya pada waktu observasi, jadi pada desain cross sectional tidak ada tindak lanjut atau follow-up.

Kelebihan Studi Cross Sectional

· Desain ini relatif mudah, murah, dan hasilnya cepat dapat diperoleh.

· Memungkinkan penggunaan populasi dari masyarakat umum.

· Dapat dipakai untuk meneliti banyak variabel sekaligus.

· Jarang terancam loss to follow-up (drop out).

· Dapat dimasukkan ke dalam tahapan pertama suatu penelitian kohort atau eksperimen, tanpa atau dengan sedikit sekali menambah biaya.

· Dapat dipakai sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya yang bersifat lebih konklusif.

Kekurangan Studi Cross Sectional

Ø Sulit untuk menentukan sebab dan akibat karena pengambilan data risiko dan efek dilakukan pada saat yang bersamaan. Akibatnya sering tidak mungkin ditentukan mana penyebab dan mana akibat.

Ø Studi prevalens lebih banyak menjaring subyek yang mempunyai masa sakit yang panjang daripada yang mempunyai masa sakit pendek, karena individu yang cepat sembuh atau cepat meninggal mempunyai kesempatan yang lebih kecil untuk terjaring.

Ø Dibutuhkan jumlah subyek yang cukup banyak, terutama bila variabel yang dipelajari banyak.

Ø Tidak menggambarkan perjalanan penyakit, insidens, maupun prognosis.

Ø Tidak praktis untuk meneliti kasus yang sangat jarang.

Ø Mungkin terjadi bias prevalens atau bias insidens karena efek suatu faktor risiko selama periode tertentu dapat disalahtafsirkan sebagai efek penyakit.

2. Penelitian Kasus – Kontrol

Pada studi kasus kontrol, penelitian dimulai dengan mengidentifikasi pasien dengan efek atau penyakit tertentu (yang disebut sebagai kasus) dan kelompok tanpa efek yang (disebut sebagai kontrol), kemudian secara retrospektif diteliti faktor risiko yang dapat menerangkan mengapa kasus terkena efek, sedangkan kontrol tidak. Sekelompok kasus (pasien yang menderita efek atau penyakit yang sedang diteliti) dibandingkan dengan kelompok kontrol (mereka yang tidak menderita penyakit atau efek). Ingin diketahui apakah suatu faktor risiko tertentu benar berpengaruh terhadap terjadinya efek yang diteliti dengan membandingkan kekerapan pajanan faktor risiko tersebut pada kelompok kasus dengan kekerapan pajanan pada kelompok kontrol.

Kelebihan Penelitian Kasus – kontrol

· Studi kasus – kontrol dapat, atau kadang bahkan merupakan satu-satunya, cara untuk meneliti kasus yang jarang atau yang masa latennya panjang.

· Hasil dapat diperoleh dengan cepat.

· Biaya yang diperlukan relatif murah.

· Memerlukan subyek penelitian yang lebih sedikit.

· Memungkinkan untuk mengidentifikasi berbagai faktor risiko sekaligus dalam satu penelitian.

Kelemahan Penelitian Kasus – kontrol

Ø Data mengenai pajanan faktor risiko diperoleh dengan mengandalkan daya ingat atau catatan medik. Daya ingat responden ini menyebabkan terjadinya recall bias, baik karena lupa, atau responden yang mengalami efek cenderung lebih mengingat pajanan terhadap faktor risiko daripada responden yang tidak mengalami efek. Data sekunder, dalam hal ini catatan medik rutin yang sering dipakai sebagai sumber data juga tidak begitu akurat.

Ø Validasi mengenai informasi kadang – kadang sukar diperoleh.

Ø Oleh karena kasus maupun kontrol dipilih oleh peneliti maka sukar untuk meyakinkan bahwa kedua kelompok itu sebanding dalam berbagai faktor eksternal dan sumber bias lainnya.

Ø Tidak dapat memberikan incidence rates.

Ø Tidak dapat dipakai untuk menentukan lebih dari satu variabel dependen, hanya berkaitan dengan satu penyakit atau efek.

3. Studi Kohort

Dalam studi kohort, sekelompok subyek yang belum mengalami pajanan terhadap faktor risiko dan belum mengalami penyakit atau efek yang diteliti secara prospektif. Secara alamiah mereka akan terbagi menjadi dua kelompok, yaitu (1) kelompok dengan faktor risiko, dan (2) kelompok tanpa faktor risiko. Kedua kelompok ini diikuti sampai waktu tertentu untuk menentukan terjadi atau tidaknya efek yang diteliti.

Kelebihan Studi Kohort

· Desain terbaik dalam menentukan insidens dan perjalanan penyakit atau efek yang diteliti.

· Desain terbaik untuk menerangkan dinamika hubungan antara faktor risiko dengan efek secara temporal.

· Pilihan terbaik untuk kasus yang bersifat fatal dan progresif.

· Dapat digunakan untuk meneliti beberapa efek sekaligus dari suatu faktor risiko tertentu.

· Karena pengamatan dilakukan secara kontinu dan longitudinal, studi kohort memiliki kekuatan yang handal untuk meneliti berbagai masalah kesehatan yang makin meningkat.

Kekurangan Studi Kohort

Ø Biasanya memerlukan waktu yang lama.

Ø Sarana dan biaya biasanya mahal.

Ø Rumit.

Ø Kurang efisien dari segi waktu dan biaya untuk meneliti kasus jarang.

Ø Terancam drop out atau terjadinya perubahan intensitas pajanan atau faktor risiko dapat mengganggu analisis hasil.

Ø Pada keadaan tertentu dapat menimbulkan masalah etika karena peneliti membiarkan subyek terkena pajanan yang dicurigai atau dianggap dapat merugikan subyek.

Contoh aplikasi pendekatan PTM

1. Studi Cross Sectional : hubungan antara kebiasaan menggunakan obat nyamuk semprot dengan batuk kronik berulang (BKB) pada balita.

2. Penelitian Kasus – Kontrol : penelitian ingin mengetahui hubungan antara diet dengan kanker kolon.

3. Studi Kohort : apakah terdapat hubungan antara ibu yang perokok pasif (ayah merokok) dengan kelahiran kecil untuk masa kehamilan (KMK) pada bayi yang dilahirkan.

Senin, 18 Oktober 2010

UKURAN – UKURAN FREKUENSI PENYAKIT

Ada tiga ukuran pokok kejadian penyakit. Angkabaku (rate) insidensi merupakan ukuran kekuatan seketika dari kejadian penyakit. Insidensi kumulatif mengukur proporsi orang yang berubah, dalam suatu jangka waktu tertentu, dari tidak sakit menjadi sakit. Prevalensi mengukur proporsi orang yang menderita sakit pada suatu saat tertentu.

1. Insidensi

Insidensi adalah jumlah permulaan penyakit dalam populasi dibagi jumlah jangka waktu pengamatan untuk semua orang dalam populasi.

2. Insidensi Kumulatif

Insidensi kumulatif adalah proporsi dari suatu populasi tetap yang menjadi sakit dalam suatu jangka waktu tertentu.

3. Prevalensi

Tidak seperti ukuran – ukuran insidensi, yang memusatkan perhatian kepada kejadian – kejadian, prevalensi memusatkan perhatian pada statur penyakit. Prevalensi dapat didefinisikan sebagai proporsi dari suatu populasi yang terkena penyakit pada suatu titik tertentu.

Kausalitas Bradford Hill

Hill mengusulkan supaya segi-segi berikut dari suatu hubungan dipertimbangkan pada waktu membedakan hubungan-hubungan kausal dari bukan kausal.

1. Kekuatan. Dengan “kekuatan hubungan”, Hill memaksudkan besarnya rasio angka baku – angka baku insidensi. Alasan yang dikemukakan Hill pada intinys ialah bahwa hubungan yang kuat lebih cenderung untuk kausal daripada hubungan yang lemah karena bila ia disebabkan oleh pengacauan atau bias yang lain, hubungan bias ini akan jauh lebih kuat dan karena itu mungkin akan terbukti. Di lain pihak, hubungan yang lemah lebih cenderung untuk disebabkan oleh bias – bias yang yang tidak terdeteksi. Namun, kenyataan bahwa suatu hubungan itu lemah tidak meniadakan hubungan kausal. Sudah ditunjukkan bahwa kekuatan hubungan bukan suatu ciri biologik yang tetap tetapi lebih merupakan suatu sifat yang tergantung pada prevalensi relatif penyebab – penyebab lain.

2. Konsistensi. Konsistensi menunjuk kepada pengamatan berulang – ulang suatu hubungan pada populasi – populasi yang berbeda dalam keadaan – keadaan yang berbeda. Akan tetapi, tidak adanya konsistensi tidak meniadakan hubungan kausal karena beberapa akibat disebabkan oleh penyebab – penyebabnya hanya dalam keadaan – keadaan yang luar biasa. Lebih tepat lagi, akibat dari suatu agen kausal tidak dapat timbul kecuali penyebab komponen pelengkapnya berpengaruh, atau sudah berpengaruh, untuk melengkapi suatu penyebab sufisien. Persyaratan ini tidak selalu akan dipenuhi. Lagi pula, penelitian – penelitian dapat diharapkan berbeda hasilnya karena mereka berbeda dalam metodologinya.

3. Kekhususan. Patokan kekhususan menuntut bahwa suatu penyebab menimbulkan suatu akibat, tidak banyak akibat. Pendirian ini sering diajukan, terutama oleh mereka yang ingin membebaskan merokok sebagai penyebab kanker paru. Akan tetapi, penyebab – penyebab dari suatu akibat tertentu tidak dapat diharapkan ada tanpa akibat – akibat lain berdasarkan alasan – alasan yang masuk akal apapun. Menurut kenyataan, pengalaman sehari – hari berulang – ulang mengajarkan kepada kita bahwa kejadian tunggal dapat mempunyai banyak akibat.

4. Temporalitas. Temporalitas menunjuk kepada ketentuan bahwa penyebab harus mendahului akibat dalam hal waktu.

5. Gradien biologik. Gradien biologik menunjuk kepada adanya suatu kurva dosis reaksi. Jika reaksi dianggap sebagai suatu ukuran epidemiologik dari akibat, yang diukur sebagai fungsi dari insidensi penyakit komparatif, maka persyaratan ini biasanya dipenuhi. Akan tetapi, beberapa hubungan kausal, memperlihatkan kecenderungan akibat menurut dosis yang tidak nyata. Hubungan – hubungan yang menunjukkan kecenderungan dosis reaksi tidak selalu kausal, pengacauan dapat menghasilkan kecenderungan seperti itu antara sebuah faktor risiko nonkausal dan penyakit jika faktor pengacau itu sendiri memperlihatkan gradien biologik dalam hubungannya dengan penyakit.

6. Plausibilitas. Plausibilitas menunjuk kepada apakah hipotesisnya masuk akal secara biologik, suatu masalah yang penting tetapi mungkin sukar untuk dinilai.

7. Koherensi. Diambil dari laporan Surgeon General tentang Merokok dan Kesehatan (1964), istilah koherensi menunjukkan bahwa penafsiran sebab dan akibat untuk suatu hubungan tidak bertentangan dengan apa yang sudah diketahui mengenai riwayat alamiah dan biologi dari penyakit tersebut. Contoh – contoh yang diberikan Hill untuk koherensi, seperti akibat histopatologik dari merokok terhadap epitelium bronkhial atau perbedaan dalam insidensi kanker paru menurut jenis kelamin, dapat secara masuk akal dianggap sebagai contoh – contoh dari plausibilitas maupun koherensi, perbedaan ini tampak kecil. Hill menekankan bahwa tidak adanya informasi yang koheren, yang tampaknya dibedakan dari adanya informasi yang bertentangan, harus dianggap sebagai bukti melawan pendapat bahwa suatu hubungan bersifat kausal.

8. Bukti eksperimental. Bukti seperti ini jarang ada untuk populasi – populasi manusia.

9. Analogi. Pemahaman yang didapat dari analogi tampaknya dirintangi oleh daya khayal mencipta para ilmuwan yang dapat menemukan analogi – analogi dimana – mana. Namun demikian, analogi – analogi sederhana yang dikemukakan Hill – jika satu obat dapat menyebabkan cacat kelahiran, mungkin yang lain dapat juga – mungkin dapat meningkatkan kredibilitas bahwa suatu hubungan itu kausal.

Seperti yang dapat dilihat, kesembilan segi bukti epidemiologik yang diajukan oleh Hill ini untuk menilai apakah suatu hubungan itu kausal penuh dengan keraguan dan pengecualian, beberapa mungkin salah (kekhususan) atau kadang – kadang tidak ada kaitannya (bukti eksperimental dan barangkali analogi). Hill mengakui bahwa tidak satupun dari kesembilan pendapat saya memberikan bukti pasti yang mendukung atau menentang hipotesis sebab – dan – akibat dan tidak satupun dapat dianggap sebagai mutlak perlu.